1
1
2022
1682060067667_2377
96-105
https://www.educativo.marospub.com/index.php/journal/article/download/14/40
https://www.educativo.marospub.com/index.php/journal/article/view/14
Model pembelajaran cooperative script kemampuan membaca intensif
Abstract
The purpose of this research is to improve students' ability to read intensively by applying the Cooperative Script model. This study uses the Classroom Action Research method with the implementation procedures are (1). planning, (2). action, (3). observation, and (4). reflection. This Classroom Action Research activity was carried out in two cycles using data collection techniques, observation sheets and assessment sheets. The subjects of this study were students of class VIII-D, totaling 33 people, with 18 males and 15 females. Based on the results of the study, the increase in the results of students' intensive reading skills using the cooperative script model in the first cycle with the lowest score of 49 and the highest score of 75.69 with an average value of 59.03. Meanwhile, in the second cycle the lowest score was 76.69 and the highest score was 90 with an average value of 81.74. The results of the researcher's observations in the first cycle of the first meeting were 56.94% and the second meeting was 70.83%. While the results of the observations of researchers in the second cycle of the first meeting were 77.33% and the second meeting was 90.27%. The results of student observations in the first cycle of the first meeting were 51.51% and the second meeting was 70.83%, while in the second cycle the first meeting was 91.28% and the second meeting was 94.69%.
Keywords: cooperative script learning model, reading ability, intensive
PENDAHULUAN
Membaca merupakan suatu proses penafsiran lambang-lambang bahasa untuk memperoleh pesan yang disampaikan oleh penulis melalui kata-kata berupa tulisan (Widyastuti, 2017). Membaca bukan hanya kegiatan memandangi lambang-lambang bahasa tertulis semata, tetapi berupaya agar lambang-lambang yang dilihatnya tersebut dapat bermakna baginya. Searah dengan pendapat Yandryati, Gumono & Purwadi (2016), mengatakan: Membaca adalah aktivitas yang kompleks dengan menggerakkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah meliputi orang yang mendengarkan pengertian dan khayalan, mengamati dan mengingat-ingat. Selain itu, Harefa (2018); Harefa (2021) dan Nurhadi (2016) mengatakan membaca adalah suatu proses yang dilakukan dan dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, dan mengingat-ingat.
Dari pendapat tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca adalah salah satu kegiatan manusia untuk memahami dan memaknai lambang-lambang tulisan sehingga dapat dimengerti makna yang tersurat maupun tersirat dalam teks bacaan tersebut. Salah satu materi pembelajaran yang tercantum pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (K13) di SMP kelas VIII adalah membaca intensif, dengan Standar Kompetensi yakni memahami ragam wacana tulis dengan membaca ekstensif, membaca intensif, dan membaca nyaring, dengan Kompetensi Dasar yakni menemukan informasi untuk bahan diskusi melalui membaca intensif, dan indikatornya adalah mampu menentukan tema teks bacaan yang telah di baca, mampu menemukan kalimat utama pada teks bacaan, dan mampu membuat kesimpulan pada teks bacaan (Masril et al., 2020). Syamsidar, Puspita dan Sum (2022) mengatakan membaca intensif merupakan salah satu kegiatan membaca yang bertujuan untuk memahami isi bacaan secara mendalam.
Berdasarkan hasil observasi dari guru mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Bawolato menunjukkan kemampuan siswa membaca intensif masih kurang. Hal ini dapat di lihat dari kesulitan siswa memahami teks bacaan, siswa kurang mampu menentukan tema teks bacaan yang telah di baca, siswa kurang mampu menemukan kalimat utama pada teks bacaan, siswa kurang mampu membuat kesimpulan pada teks bacaan sehingga hasil kemampuan siswa dalam membaca intensif masih belum mencapai target KKM 65 pada Indikator membaca intensif di SMP Negeri 1 Bawolato.
Selain dari masalah tersebut di atas, maka ada dua faktor penyebab ketidakmampuan siswa dalam disebabkan oleh beberapa faktor yaitu 1). faktor internal (dalam diri siswa) yaitu (a). kurangnya minat dan motivasi siswa membaca intensif di kelas VIII-D SMP Negeri 1 Bawolato, kurangnya pengetahuan siswa kelas VIII-D SMP Negeri 1 Bawolato terhadap materi membaca intensif; 2). faktor eksternal (dari guru) yaitu (a). kurangnya sarana dan prasarana yang terdapat di SMP Negeri 1 Bawolato contohnya perpustakaan sehingga sumber belajar tentang buku kurang dimiliki oleh peserta didik, (b). kurangnya peranan orang tua untuk memotivasi siswa dalam belajar membaca intensif, (c). kurangnya kemampuan guru dalam merancang pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk mampu membaca, misalnya penerapan model pembelajaran cooperative script. Di mana motivasi itu sangat penting dalam melakukan suatu dorongan positif untuk memberikan kekuatan terhadap peserta didik (Laoli et al., 2022; Lase & Ndruru, 2022). Sedangkan Model pembelajaran adalah pedoman berupa program atau petunjuk strategi mengajar guru yang di rancang untuk mencapai sutu pembelajaran (Novalinda et al., 2020; Riyadi & Adilah, 2022; Telaumbanua et al., 2019; Timor et al., 2021; Zebua et al., 2021; Zagoto et al., 2019; Zagoto, 2022).
Supaya masalah di atas tidak terus menerus berkelanjutan di masa yang akan datang, maka salah satu model pembelajaran yang bisa memberi solusi adalah model pembelajaran cooperative script. Puryanti & Maryamah (2016); Rusydiana (2021); dan Hanafi, & Gunansyah (2014) mengatakan model pembelajaran cooperative script adalah model pembelajaran di mana cooperative script merupakan penyampaian materi ajar kepada siswa yang kemudian diberikan kesempatan kepada siswa untuk membacanya sejenak dan memberikan atau memasukkan ide-ide atau gagasan baru ke dalam materi ajar yang diberikan bagian-bagian dari materi yang penting.
Jadi, model pembelajaran cooperative script merupakan penyampaian materi ajar kepada siswa yang kemudian diberikan kesempatan kepada siswa untuk membacanya sejenak dan memberikan atau memasukkan ide-ide atau gagasan baru kedalam materi ajar yang diberikan guru, lalu siswa diarahkan untuk menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dalam materi yang ada secara bergantian sesama pasangannya masing-masing (Harefa, Gee, Ndruru, Sarumaha, Ndraha, Ndruru, Telaumbanua, 2020).
Dari pendapat tersebut di atas peneliti menyimpulkan bahwa metode pembelajaran cooperative script adalah salah satu model pembelajaran yang kepada siswa untuk memberikan memasukkan, ide-ide atau gagasan baru ke dalam materi ajar yang diberikan guru lalu kemudian diarahkan untuk menujukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dalam materi yang ada secara bergantian sesama pasangannya masing-masing. Oleh sebab itu, dengan adanya kesempatan untuk bekerja berpasangan dan bergantian maka proses pembelajaran menjadi lebih aktif dan lebih bermakna.
METODE
Penelitian ini dilaksanakan dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bawolato yang berjumlah 33 orang siswa dengan jumlah laki-laki 18 dan perempuan 15 orang siswa. Prosedur pelaksanaan tindakan meliputi perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi guru dan siswa, tes esay, dokumentasi, dan catatan lapangan. Teknik analisis data dalam penelitian ini ada dua, yakni analisis data kuantitatif dan analisis data kualitatif (Sugiyono, 2018).
Penentuan nilai siswa membaca intensif dalam dengan menggunakan model pembelajaran cooperative script sedangkan indikator yang digunakan untuk menentukan keberhasilan siswa dalam membaca intensif berdasarkan KKM yang telah ditentukan di SMP Negeri 1 Bawolato adalah 65. Siswa yang mendapat nilai > KKM dikategorikan berhasil, sedangkan siswa yang mendapat nilai < KKM tidak berhasil. Penerapan data pada kualitatif terhadap lembar observasi, maka dijumlah keseluruhan frekuensi aktivitas yang dilakukan di depan kelas di bagi dengan jumlah total aktivitas peneliti di kali 100%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
a. Pembelajaran Siklus I2
Pelaksanaan siklus I sebanyak 2 kali pertemuan pembelajaran dan 1kali pemberian tes. Kegiatan yang dilakukan sebelum tindakan adalah perencanaan yang terdiri dari menyusun kembali satuan pembelajaran, menyiapkan bahan ajar tentang materi membaca intensif dan menyiapkan lembar observasi siswa, guru, dan daftar hadir siswa.
Tabel 1. Hasil Observasi Siklus I
No |
Aktivitas siswa |
Siklus I Pertemuan Kedua |
|
Jumlah |
Persen |
||
1 |
Masing-masing siswa bergabung pada pasangan yang telah ditentukan oleh peneliti. |
33 |
100% |
2 |
Masing-masing siswa menerima wacana dalam bentuk teks bacaan yang dibagikan peneliti. |
33 |
100% |
3 |
Siswa membaca secara intensif teks bacaan yang telah dibagikan peneliti. |
21 |
63,64 % |
4 |
Setiap siswa membuat ringkasan atau kesimpulan terhadap teks bacaan yang telah dibaca. |
27 |
81,82 % |
5 |
Siswa membacakan hasil ringkasannya atau kesimpulannya. |
11 |
33,33 % |
6 |
Siswa bertukar peran semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. |
33 |
100% |
7 |
Siswa menyampaikan pertanyaan terhadap materi pembelajaran |
5 |
15,15 % |
8 |
Siswa mendengarkan kesimpulan terhadap Materi pembelajaran dari peneliti. |
24 |
72,72 % |
Jumlah |
187 |
||
Hasil Pengamatan Siswa Yang Aktif |
70,83% |
||
Hasil Pengamatan Siswa Yang Tidak Aktif |
29,17% |
||
Hasil Observasi Peneliti Atau Guru |
70,83% |
Pelaksanaan tindakan sesuai dengan langkah-langkah model pembelajaran Cooperative Script pada pembelajaran membaca intensif.
Tabel 2. Tingkat Persentase Kemampuan Membaca Intensif Siswa Pada Siklus I
No |
Klasifikasi Nilai |
Kategori |
Jumlah Siswa |
% |
1 |
80 % -100 % |
Baik Sekali |
- |
- |
2 |
70 % - 79 % |
Baik |
3 |
9,09 |
3 |
60 % - 69 % |
Cukup |
13 |
39,40 |
4 |
45 % - 59 % |
Kurang |
17 |
51,51 |
5 |
< 44 % |
Sangat Kurang |
|
|
Jumlah |
33 |
100 |
||
Rata-Rata Nilai |
61,09 |
Dari tabel 2 di atas, maka dapat dibuat grafik peningkatan kemampuan siswa membaca intensif melalui model pembelajaran cooperative script pada siklus I di bawah ini.
Gambar 1. Kemampuan Membaca Intensif Siklus I
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada siklus I dengan nilai rata-rata sebesar 59,03, maka dapat disimpulkan bahwa nilai kemampuan kelas VIII-D dalam membaca intensif belum mencapai KKM 65 yang telah ditentukan di SMP Negeri 1 Bawalato. Oleh sebab itu, peneliti perlu melanjutkan pada siklus II.
b. Pembelajaran Siklus II
Pelaksanaan siklus II juga sebanyak 2 kali pertemuan pembelajaran dan 1kali pemberian tes. Kegiatan yang dilakukan sebelum tindakan adalah perencanaan yang terdiri dari menyusun kembali satuan pembelajaran, menyiapkan bahan ajar tentang materi membaca intensif dan menyiapkan lembar observasi siswa, guru, dan daftar hadir siswa.
Tabel 3. Hasil Observasi Siklus II
No |
Aktivitas siswa |
Siklus I Pertemuan Kedua |
|
Jumlah |
Persen |
||
1 |
Masing-masing siswa bergabung pada pasangan yang telah ditentukan oleh peneliti |
33 |
100% |
2 |
Masing-masing siswa menerima wacana dalam bentuk teks bacaan yang dibagikan peneliti |
33 |
100% |
3 |
Siswa membaca secara intensif teks bacaan yang telah dibagikan peneliti. |
31 |
93,94 % |
4 |
Setiap siswa membuat ringkasan atau kesimpulan terhadap teks bacaan yang telah di baca. |
33 |
100% |
5 |
Siswa membacakan hasil ringkasannya atau kesimpulannya. |
33 |
100% |
6 |
Siswa bertukar peran semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. |
33 |
100% |
7 |
Siswa menyampaikan pertanyaan terhadap materi pembelajaran. |
24 |
72,72 % |
8 |
Siswa mendengarkan kesimpulan terhadap materi pembelajaran dari peneliti. |
30 |
90,91 % |
Jumlah |
250 |
||
Hasil Pengamatan Siswa Yang Aktif |
94,69% |
||
Hasil Pengamatan Siswa Yang Tidak Aktif |
5,31% |
||
Hasil Observasi Peneliti Atau Guru |
90,27% |
Pelaksanaan tindakan sesuai dengan langkah-langkah model pembelajaran Cooperative Script pada pembelajaran membaca intensif.
Tabel 4. Tingkat Persentase Kemampuan Membaca Intensif Siswa Pada Siklus II
No |
Klasifikasi Nilai |
Kategori |
Jumlah Siswa |
% |
1 |
80 % - 100 % |
Baik Sekali |
22 |
66,66 |
2 |
70 % - 79 % |
Baik |
11 |
33,34 |
3 |
60 % - 69 % |
Cukup |
- |
- |
4 |
45 % - 59 % |
Kurang |
- |
- |
5 |
< 44 % |
Sangat Kurang |
- |
|
Jumlah |
33 |
100 |
||
Rata-Rata Nilai |
81,74 |
Dari tabel 4, di atas, maka dapat dibuat grafik peningkatan kemampuan siswa membaca intensif melalui model pembelajaran cooperative script pada siklus II di bawah ini.
Gambar 2. Kemampuan Membaca Intensif Siklus II
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada siklus I dengan nilai rata-rata sebesar 81,74, maka dapat disimpulkan bahwa nilai kemampuan kelas VIII-D dalam membaca intensif sudah mencapai KKM atau 65 yang telah ditentukan di SMP Negeri 1 Bawalato.
Berdasarkan hasil kemampuan siswa membaca intensif dengan menggunakan model pembelajaran cooperative script pada siklus I dan II, maka dapat dibuat profil temuan penelitian. Untuk lebih jelasnya perhatian grafik di bawah ini.
Gambar 3. Peningkatan Kemampuan Membaca Intensif Siswa pada Siklus I dan Siklus II
Pembahasan
Berdasarkan model pembelajaran yang diterapkan oleh guru pada proses pembelajaran membaca intensif maka jawaban umum yang dapat diberikan adalah dengan menggunakan model pembelajaran cooperative script dapat meningkatkan kemampuan siswa membaca intensif. Jawaban umum yang dapat diberikan terhadap kemampuan siswa membaca intensif adalah secara umum tingkat kemampuan siswa pada awalnya masih tergolong kurang karena selama ini materi membaca intensif bagi siswa tidak sesuai dengan kenyataan dan permasalahan yang diterapkan di kelas VIII-D SMP Negeri 1 Bawalato. Setelah model pembelajaran cooperative script maka adanya peningkatan dalam membaca intensif bagi siswa.
Analisis yang dilakukan pada temuan penelitian ini adalah 1). hasil belajar siswa pada siklus I, nilai terendah 49 dan nilai tertinggi 75,69 dengan nilai rata-rata 59,03. Tingkat kemampuan siswa baik 3 orang dengan persentase 9,09%, tingkat kemampuan cukup berjumlah 13 orang dengan persentase 39,40%, dan tingkat kemampuan siswa kurang 17 orang dengan persentase 51,51%. Berdasarkan hasil analisis pada siklus I terhadap hasil kemampuan siswa membaca intensif belum memenuhi target yang telah diharapkan karena siswa masih belum terbiasa dalam membaca intensif serta pemahaman siswa dalam menemukan kalimat utama pada teks bacaan masih belum seoptimal mungkin. Selain itu, peserta didik selama proses pembelajaran di kelas masih banyak siswa yang tidak serius memperhatikan dan memahami pembelajaran yang disampaikan oleh peneliti di depan kelas. Sehingga pada akhirnya peneliti bersama dengan guru pengamat melanjutkan tindakan pembelajaran pada siklus berikutnya yaitu siklus II; 2). hasil belajar siswa pada siklus II, nilai terendah 76,67 dan nilai tertinggi 90 dengan nilai rata-rata 81,74. Tingkat kemampuan siswa baik sekali 22 orang dengan persentase 66,66%, tingkat kemampuan siswa baik berjumlah 11 orang dengan persentase 33,34%; 3). hasil observasi peneliti siklus I pertemuan pertama 56,94% dan pertemuan kedua sebesar 70,83%. Sedangkan hasil observasi peneliti siklus II pertemuan pertama sebesar 77,33% dan pertemuan kedua sebesar 90,27%; 4). hasil observasi siswa yang aktif siklus I pertemuan pertama 51,51% dan siswa yang tidak aktif sebesar 48,49% sedangkan pada pertemuan kedua siswa yang aktif sebesar 70,83% dan siswa yang tidak aktif sebesar 29,17%. sedangkan hasil observasi siswa yang siklus II yaitu pertemuan pertama sebesar 91,28% dan siswa yang tidak aktif 8,72%. Selanjutnya, pada pertemuan kedua siswa yang aktif 94,69% dan yang tidak aktif 5,31%.
Penafsiran temuan penelitian yakni meliputi seluruh objek tindakan yang dilakukan peneliti di kelas VIII-D SMP Negeri 1 Bawalato dengan menggunakan model pembelajaran cooperative script. Berdasarkan hasil observasi pada saat pembelajaran membaca intensif di kelas VIII-D SMP Negeri 1 Bawalato, masih terdapat siswa yang kurang mampu menemukan tema, ide pokok dan kuran mampu meringkas teks bacaan, kurang antusias dalam mengikuti langkah-langkah pembelajaran model pembelajaran cooperative script hal ini terlihat pada hasil siklus I sebesar 59,03 hanya pada klasifikasi cukup.
Berdasarkan hasil tersebut peneliti mengkaji ulang pembelajaran dengan cara mengadakan refleksi terhadap materi membaca intensif dan model pembelajaran cooperative script sehingga pada siklus II peneliti mengoptimalkan kegiatan pembelajaran, melakukan bimbingan kepada siswa, dan mengadakan komunikasi antar siswa sehingga memperoleh hasil sebesar 81,74% pada kategori baik sehingga model pembelajaran cooperative script dapat dikatakan berhasil. Maka dapat disimpulkan bahwa hasil temuan penelitian yang diperoleh berdasarkan hasil analisis dan temuan penelitian adalah dengan menggunakan model pembelajaran cooperative script dapat meningkatkan kemampuan siswa membaca intensif dengan menggunakan model pembelajaran cooperative script siswa kelas VIII-D SMP Negeri 1 Bawalato.
Setelah melakukan analisis dari hasil kemampuan siswa membaca intensif berdasarkan model pembelajaran cooperative script maupun dari lembar observasi siswa dan peneliti maka temuan penelitian ini adalah adanya peningkatan kemampuan siswa membaca intensif dengan nilai rata-rata pada siklus 59,03 dan pada siklus II sebesar 81,74.
Selanjutnya, penelitian yang relevan yang dilakukan oleh Kustiningsih, Suryani & Heryana (2013) tentang peningkatan kemampuan membaca bahasa Indonesia melalui metode cooperative script kelas IV SD. Di mana hasil penelitiannya adalah pada siklus I nilai rata-rata sebesar adalah 58,46 dan pada siklus II adalah 87,82. Dari uraian di atas, maka dapat dikatakan bahwa penelitian ini dengan penelitian terdahulu memiliki perbedaan yaitu hasil yang diperoleh berbeda, lokasi penelitian berbeda, dan tahun penelitian berbeda. Sedangkan, persamaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah sama-sama pada keterampilan membaca Intensif dan dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas.
Penelitian ini diperoleh beberapa temuan antara lain: adanya peningkatan kemampuan membaca intensif dengan menggunakan model pembelajaran cooperative script siswa kelas VIII-D SMP Negeri 1 Bawalato. Searah dengan pendapat Afidah (2021); Harefa (2018); dan Salamiah (2018) mengatakan bahwa terjadi peningkatan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan guru dalam peningkatan kemampuan membaca melalui metode cooperative script dalam proses pembelajaran baik dalam perencanaan, pelaksanaan, dan hasil menunjukan peningkatan. Oleh sebab itu, berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diharapkan guru mengetahui permasalahan yang terjadi dalam proses pembelajaran di kelas dan mencari jalan keluar pemecahannya dengan cara melakukan Penelitian Tindakan Kelas karena dengan penelitian tindakan kelas ini sangat bermanfaat bagi guru dan siswa. Model ini tidak hanya diterapkan pada mata pelajaran bahasa Indonesia saja tetapi pada mata pelajaran yang lain juga, serta diharapkan ke depannya sekolah bersangkutan bisa lebih baik dengan dilakukannya Penelitian Tindakan Kelas.
Berdasarkan hasil analisis yang ditemukan pada siklus I dan II pada dasarnya keterbatasan maksimal yang di capai adalah 100% tetapi berdasarkan hasil yang diperoleh adalah siklus I sebesar 59,03 dab siklus II sebesar 81,74.
KESIMPULAN
Hasil belajar siswa pada siklus I, diperoleh nilai terendah 49 dan nilai tertinggi 75,69 dengan nilai rata-rata 59,03. Hasil observasi peneliti siklus I pertemuan pertama 56,94% dan pertemuan kedua sebesar 70,83%. Hasil observasi siswa yang aktif siklus I pertemuan pertama 51,51% dan siswa yang tidak aktif sebesar 48,49% sedangkan pada pertemuan kedua siswa yang aktif sebesar 70,83% dan siswa yang tidak aktif sebesar 29,17%. Hasil belajar siswa pada siklus II, diperoleh nilai terendah 76,67 dan nilai tertinggi 90 dengan nilai rata-rata 81,74. Sedangkan hasil observasi peneliti siklus II pertemuan pertama sebesar 77,33% dan pertemuan kedua sebesar 90,27%. Selanjutnya, sedangkan hasil observasi siswa yang siklus II yaitu pertemuan pertama sebesar 91,28% dan siswa yang tidak aktif 8,72%. Selanjutnya, pada pertemuan kedua siswa yang aktif 94,69% dan yang tidak aktif 5,31%. Oleh sebab itu, maka dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran cooperative script dapat meningkatkan kemampuan siswa membaca intensif di kelas VIII-D SMP Negeri 1 Bawalato.
DAFTAR PUSTAKA
Afidah, Siti. (2021). Pembelajaran pengenalan tumbuhan melalui Cooperative Script Pada Peserta Didik Kelas IV di SDN 37 Sui Ambawang Kabupaten Kuburaya. Foundasia, 12(2), 75-80.
Dakhi, O. (2022). Implementasi Model Pembelajaran Cooperative Problem Solving Untuk Meningkatkan Kreativitas Dan Prestasi Belajar. Educativo: Jurnal Pendidikan, 1(1), 8–15.
Harefa, D., Gee, E., Ndruru, M., Sarumaha, M., Ndraha, L. D. M., Ndruru, K., Telaumbanua. T. (2020).
Harefa, N. A Jaya. (2021). Aktivitas Hasil Belajar Membaca Pemahaman Melalui Metode Jigsaw di SMP Kristen BNKP Gunungsitoli. Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra. 3(2), 374-379.
Harefa, N. A Jaya. (2018). Peningkatan Kemampuan Menulis Teks Berita Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Cooperative Script Siswa Kelas Vii SMP Negeri 2 Gunungsitoli Utara Tahun Pembelajaran 2017/2018. DIDAKTIK: Jurnal Ilmiah Pendidikan, Humaniora, Sains dan Pembelajarannya. 12 (1), 2085-2092.
Harefa, T. (2021). Peningkatan Keterampilan Membaca Teks Klasifikasi Menggunakan Metode SQ3R dengan Media Gambar. Edumaspul: Jurnal Pendidikan, 5(1), 658-664. https://doi.org/10.33487/edumaspul.v5i1.2125
Hanafi, T., & Gunansyah, G. (2014). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Script Untuk Meningkatkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ips Di Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 2(2), 1-15.
Kemendikbud. (2013). Permendikbud No.81A Tentang Implementasi Kurikulum. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Kustiningsih, Sri Ponti., Suryani, S., Heryana, Nanang. (2013). Peningkatan Kemampuan Membaca Bahasa Indonesia Melalui Metode Cooperative Script Kelas IV SD. Journal of Equatorial Education and Learning, 2(3),1-7.
Laoli, J. Kristian., Dakhi, O., Zagoto, M. M. (2022). Implementasi Model Pembelajaran Jigsaw untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Mahasiswa Pendidikan BK pada Perkuliahan Filsafat Pendidikan. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 4(3), 4408-4414.
Lase, A., & Ndruru, F. I. . (2022). Penerapan Model Pembelajaran Discovery Inquiry Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. Educativo: Jurnal Pendidikan, 1(1), 35–44.
Masril, M., Jalinus, N., Jama, J., & Dakhi, O. (2020). Implementasi Pembelajaran Berbasis Masalah Pada Kurikulum 2013 Di SMK Negeri 2 Padang. Konstruktivisme: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran, 12 (1), 12-25.
Novalinda, R., Dakhi, O., Fajra, M., Azman, A., Masril, M., Ambiyar, A., & Verawadina, U. (2020). Learning Model Team Assisted Individualization Assisted Module to Improve Social Interaction and Student Learning Achievement. Universal Journal of Educational Research, 8(12A), 7974–7980. https://doi.org/10.13189/ujer.2020.082585.
Nurhadi. (2016). Teknik Membaca. Jakarta: Bumi Aksara.
Puryanti, E., & Maryamah, M. (2016). Penerapan Metode Cooperative Script Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas V Pada Mata Pelajaran Ski Di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Huda Kabupaten Oku Timur. JIP (Jurnal Ilmiah PGMI), 1(2), 303-330.
Riyadi, S., & Adilah, N. (2022). Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas XI Di SMA Ekasakti Padang Dengan Metode Pembelajaran Demonstration Berbasis Discussion Process. Educativo: Jurnal Pendidikan, 1(1), 84–95. https://doi.org/10.56248/educativo.v1i1.13
Rusydiana, Diyan. (2021). Penerapan Model Cooperative Script Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika. Indonesian Journal of Educational Development, 1 (4), 683-691.
Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: CV Alfabeta.
Salamiah, S. (2018). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Script Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Pada Materi Menyimak Cerita Siswa Kelas VI SD Negeri 020 Tembilahan Hilir. Jurnal Pajar (Pendidikan dan Pengajaran), 2(1), 1-10.
Syamsidar, Raja., Puspita, Alvi., Sum, TM. (2022). Peningkatan Kemampuan Membaca Intensif Bagi Siswa SMAN 2 Rumbio Jaya. Bidik: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 2 (2), 34-38. https://doi.org/10.31849/bidik.v2i2.9840
Telaumbanua, A., Dakhi, O., & Zagoto, M. M. (2019). Penerapan Model Pembelajaran Group Investigation Berbantuan Modul Pada Mata Kuliah Praktek Kayu. Edumaspul: Jurnal Pendidikan, 5(2), 839–847.
Timor, A. R., Ambiyar, Dakhi, O., Verawadina, U., & Zagoto, M. M. (2021). Effectiveness of Problem-Based Model Learning on Learning Outcomes and Student Learning Motivation In Basic Electronic Subects. International Journal of Multi Science, 1(10), 1–8.
Widyastut, Ana. (2017). Peningkatan Literasi Anak Usia 4-6 Tahun Melalui Bahan Ajar Membaca, Menulis, Dan Berhitung Untuk Guru TK Di Kecamatan Cinere Dan Limo Depok. Abdimas Talenta, 2(2), 100-108.
Yandryati, Jenny., Gumono, G., & Purwadi, Agus Joko. (2016). Kemampuan Membacakan Teks Berita Pada Siswa Kelas VIII 1 SMP Negeri 3 Kota Bengkulu Tahun Ajaran 2016/2017. Jurnal Korpus, I(I), 68-72.
Zebua, Y., Zagoto, M. M., & Dakhi, O. (2021). Implementasi Model Pembelajaran Predict Observe Explain Berbasis Drill and Practice Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Prestasi Belajar Pada Mata Kuliah Pemindahan Tanah Mekanis. Edumaspul: Jurnal Pendidikan, 5(2), 872–881.
Zagoto, M. M. (2022). Peningkatan Hasil Belajar Mahasiswa Melalui Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Word Square. Educativo: Jurnal Pendidikan, 1(1), 1–7. https://doi.org/10.56248/educativo.v1i1.1
Zagoto, Maria M. & Nevi Yarni (2019). Perbedaan Individu dari Gaya Belajarnya Serta Implikasinya Dalam Pembelajaran. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran, 2(2), 259-265.
Submitted |
Accepted |
Published |
: |
15-05-2022 |
22-05-2022 |
26-05-2022 |
Article Title | Authors | Vol Info | Year |
Article Title | Authors | Vol Info | Year |